Sedetik Lebih Lama (part 1)

Dia berlari ke arah deburan pantai itu, berlari seakan di antara ombak-ombak yang menderu biru itu ia dapat bersembunyi, lucu sekali pikirnya, mengapa di tempat umum seperti ini aku malah bisa merasa tenang ? ini jelas ada yang salah, gumamnya lagi. beberapa detik ia sadar sudah akan semakin dekat dengan batas antara pasir yang dipijaknya dengan lautan. Ia harus kuat, Ia harus bisa mengalahkan semua rasa takut itu. bukan untuk mencari jalan keluar yang pintas dan Ia sadar jika Ia memilih itu penyesalan akan tidak kunjung hilang Ia tau persis itu salah lalu Ia memundurkan langkah hingga ia hampir saja menabrak orang di belakangnya, ups! sorry, ujarnya. terduduk kembali di tepi pantai, waktu sudah menunjukan pukul 5.45 sore baru ia sadar betapa indah pemandangannya saat ini matahari seakan menyeringaikan senyumnya mengucapkan “selamat beristirahat jiwa-jiwa yang lelah” Ia menyeringai dan menghela nafas panjang, tiba-tiba rasanya ingin berteriak sekuatnya, dadanya terasa sesak menahan segala amarah dan kecewa beberapa bulan ini, pikirannya berkecamuk, Ia sunyi, siapa akan mendengarkannya? kembali Ia melihat layar smart phonenya, huh tidak ada siapa-siapa yang bahkan berpura-pura menanyakanku. pikirnya. kembali menghela nafas panjangnya lagi, kali ini Ia lihat matahari telah sudah hanya semburat oranye saja tapi Ia masih ingin sekali rasanya meresapi kesendirian ini dan masih ingin melamparkan segala pertanyaan yang ada di kepalanya, apa yang salah dengan dirinya ? siapa dirinya yang sekarang di tanah asing namun bukan tempat yang jauh namun disini juga bagian dari dirinya. apakah Ia masih dalam proses pencarian jati dirinya? kenapa semua kekecewaan itu Ia rasakan lagi? apakah Ia telah menjadi seseorang yang sangat tidak baik untuk orang lain ? semua itu hanya beberapa pertanyaan yang ada di kepalanya beberapa bulan belakangan ini, sehingga Ia berpikir bersembunyi di tempat ini di pantai yang indah ini bisa membuatnya berpikir jernih. Pikirannya sudah terlalu penuh tetapi bukan serta merta Ia bisa keluarkan dan tanyakan langsung, bukan tidak berani hanya saja Ia tau persis seperti apa dirinya jika Ia sudah membuka suara. Tak terasa air matanya luruh juga seketika deburan ombak kini semakin terdengar syahdu biasanya Ia penakut, tapi entah kenapa kali ini seakan suara samudra dan angin menjadi pendengarnya, perasaan aneh ini yang diberikan semesta padanya entah kenapa menjadikannya semakin kuat, tidak boleh pikirnya tidak boleh menyerah, aku akan menangis disini saja, dengan mereka (ombak samudra,desiran angin,dan langit yang indah ini) batinnya. Semesta ini sungguh indah dan magis. Ia hanya seorang disini, Ia memberanikan diri menepi ke tempat yang lebih tenang dan tidak kenal siapa-siapa, tanpa pikir panjang kala itu hanya ingin segera bercerita dengan “mereka” dan menangis sejadi-jadinya. sadar hari semakin gelap, Ia bergegas pergi dan kembali ke hotel, nasib baik hotel itu juga tidak banyak orang menginap, Ia bisa merebahkan dan memejamkan matanya dengan tenang jika Ia bisa tidur kali ini. Bukan Ia ingin sekali menyendiri seperti ini seakan-akan tidak ada lagi orang yang peduli dengan dirinya. tetapi setelah Ia pikir kembali, memang tidak ada. Baiklah aku akan menikmati semua waktu yang aku punya sekarang bebas dari orang-orang yang kerap membuatnya kesal setidaknya 4 hari ini harus dipergunakannya dengan baik untuk me-recharge kembali energynya yang beberapa bulan ini terkuras sudah dengan segala tingkah polah rekan sepekerjaan dan juga rekan serumahnya yang sampai detik ini juga tidak ada bertanya dimana keberadaannya. “Haha, manusia-manusia hipokrit” ujarnya getir. – bersambung..

2 thoughts on “Sedetik Lebih Lama (part 1)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s