Sedetik lebih lama (part 2)

Disclaimer : it might not related previous story but I try to draw the same line and experience I have been through. I mean I am still legitly felt the same thing, just this goddamn expectation never went well. ALL. THE. TIME.

Kadang kala berbuat baik saja tidak cukup, menjadi orang baik saja tidak cukup tapi kita harus EXTRA dan SUPER pengertian, kadang di kepala sering bertanya, kenapa kita harus terkadang dengan ringannya meminta orang memahami segala cacat dan kekurangan kita sedangkan kita tidak pernah berusaha memahami kekurangan orang lain itu sendiri, dengan mengedepankan ego diri masing-masing, kadang bertanya dapat apa dengan menjadi egois? 

sisi lucunya adalah dikala kita berusaha memahami kesusahan dan kekurangan orang lain, manusia cenderung terlanjur nyaman dengan asupan pengertian yang kita berikan di titik ini lah terkadang niat baik itu goyah, dengan melihat titik ketidak pekaan orang sekeliling bahwa “hey, gue ini sekarang berusaha menjadi orang yang bisa setidaknya mengurangi kesusahan elo” tapi tidak demikian kawan dengan orang itu yang bisa memberikan kita ketenangan dengan setidaknya dengan tidak bertindak egois dan bodoh seolah-olah sudah terlepas dari masalahnya menjadikan kita ajang pemanfaatan kesekian kalinya dengan “ah dia emang baik ini orangnya” ??? jadi dengan menemukan fakta di lapangan seperti itu sering kali kita bisa dengan mudah merasa terkhianati oleh niat baik itu sendiri. karena sekali lagi, niat baik saja tidak cukup TAPI harus EXTRA PENGERTIAN. saya tidak merujuk sama sekali dengan kaitannya pada beberapa kepercayaan e.g muslim,kristen,hindu etc, saya berekspresi berdasarkan naluri yang umumnya manusia punya. setelah semua usaha dan cara di tempuh untuk berdamai dengan diri sendiri, saatnya hubungan vertikal ini dengan Tuhan ambil bagian, karena pada dasarnya Tuhan ingin kita berpikir, merasakan, melihat. belajar, dan terakhir bersyukur dan memahami.

Di usia sekarang ini jadi sering kali berpikir, dan berulang kali mencari apa yang saya butuhkan sebenarnya? apa arti hidup ini dengan segala bumbu drama dari orang sekitar yang kita temui? dengan segala sudut pandang, ilmu, tekanan sosial, tekanan mental, tekanan strata sosial, tekanan pencapaian, tekanan demi tekanan kita jalani, walau mungkin tidak sepenuhnya kita menjalani semua tekanan itu 100% tapi bisa di pastikan 80%nya adalah makanan sehari-hari. seperti istilah “somewhere only we know” hanya kita yang tau ingin kemana tapi bila dipikirkan kembali.. apa gunanya pencarian ini? sekali lagi saya ini diluar konteks kepercayaan yang kita punya, tentu jika dihubungkan dengan konteks kepercayaan (Agama) yang kita tau, jawabannya kita sudah tau. namun tidak bisakah kita juga mencari jawaban diluar konteks diatas? kepada siapa sebenarnya pembuktian diri ini tertuju ? siapa? orang tua? kolega? pasangan? anak? sanak saudara? masyarakat? kenapa mereka butuh itu semua ? siapa yang memulai ini semua? padahal jika sekali lagi kalau kita ingin mengkaitkan dengan kepercayaan yang sudah ada atau yang kita yakini suruhan Tuhan itu simpel sekali, beribadah dan bersyukur dan berbuat baik. memang ada si iblis yang tidak senang dengan kecintaan Tuhan dengan umat paling sempurna di dunia (berdasarkan apa yang sudah aku percayai bersumber dari kitab yang sudah saya baca) tapi bukankan bisa saja,kita abaikan bisikin laknat mereka, itu adalah keistimewaan yang TUHAN beri sudah layaknya kita dengan sendirinya menyadari dan memilih yang baik-baik itu. tapi baiklah, sekali lagi ini bukan kajian yang konteksnya dengan religi, hanya saja, pertanyaan demikian sering berbunyi di kepala sampai pada akhirnya menyadari jiwa ini masih mengembara untuk pencarian makna hidup ini sesungguhnyta. karena kenyataannya hidup tidak lah sesimpel “Berbuat baik kala hidup dan mati lalu masuk surga” karena hidup untuk saling mengisi, mengisi kesedihan, kebahagian, kelebihan, kekurangan, ketenengan, kegelisahan, kecemasan, keceriaan. lelah sekali jiwa ini. lelah berusaha menjadi sempurna dan berharap sudah bisa diterima niat baik di setiap perbuatan, dan mencemaskan hal-hal yang tidak diperlukan.

mau tidak mau, itu semua akan terjalani dengan sendirinya. pada akhirnya jalan harus dilalui, pilihan hanya mau atau tidak.

Irene – bali 2020

Do you agree ?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s